Dr. Wahidin Sudirohusodo: Penggagas Budi Utomo dan Dokter Yang Mulia

Dr. Wahidin Sudirohusodo: Penggagas Budi Utomo dan Dokter Yang Mulia – Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang tokoh yang tak terlupakan dalam sejarah perjuangan Indonesia, lahir pada 7 Januari 1852 di Melati Sleman, Yogyakarta. Namanya selalu dihubungkan dengan Budi Utomo, organisasi pemuda yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Meskipun bukan pendiri Budi Utomo, namun Dr. Wahidin adalah penggagas utama berdirinya organisasi tersebut.

Latar Belakang dan Pendidikan

Ayahnya, Aryo Sudiro, seorang wedana yang terpandang di desanya. Keluarga Aryo Sudiro berasal dari Bagelen, Jawa Tengah, dan dikenal sebagai petani yang sukses. Dr. Wahidin memiliki kakak perempuan yang menikah dengan seorang Belanda, Frits Kohle. Berkat bantuan Frits Kohle, Dr. Wahidin dapat mengenyam pendidikan yang layak. Dia memulai pendidikan di De Scholen der Tweede Klasse, sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak Bumiputra. Kemudian, dia melanjutkan ke Europeesche Lagere School di Yogyakarta pada tahun 1864.

Pendidikan Dokter dan Perjuangan

Setelah lulus dari ELS, Dr. Wahidin melanjutkan pendidikan kedokterannya di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Batavia pada tahun 1869. Di STOVIA, dia menunjukkan prestasi gemilang dan lulus dengan cepat. Pada tahun 1872, dia diangkat sebagai asisten pengajar di STOVIA.

Sebagai seorang dokter, Dr. Wahidin sangat dekat dengan masyarakat. Dia memanfaatkan profesinya untuk membantu rakyat dengan mengobati mereka tanpa memungut bayaran. Sikapnya yang dermawan membuatnya terkenal di kalangan rakyat. Selain itu, dia juga aktif dalam kegiatan seni seperti gamelan.

Perjuangan Pendidikan dan Kemerdekaan

Dr. Wahidin menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengatasi masalah-masalah bangsa. Dia aktif dalam menyebarkan gagasan-gagasan melalui tulisan di surat kabar dan mendirikan majalah berbahasa Jawa, Retno Dhoemilah. Pada tahun 1908, bersama Sutomo, Suradji, dan Goenawan Mangoenkoesoemo, dia mendirikan Budi Utomo, organisasi modern pertama di Indonesia.

Dr. Wahidin juga mendirikan lembaga beasiswa Darmoworo untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia yang kurang mampu. Meskipun usianya sudah lebih dari 50 tahun, dia tetap gigih dalam perjuangannya. Namun, dia tidak sempat melihat kemerdekaan Indonesia karena meninggal pada tanggal 26 Mei 1917.

Warisan dan Penghargaan

Pemerintah mengakui jasa-jasa Dr. Wahidin dengan menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada tahun 1973. Warisan semangat dan keteladanan Dr. Wahidin tetap hidup, antara lain semangat kebangsaan, keteguhan dalam berjuang, dan teladan hidup sederhana dan dermawan.

Kesimpulan

Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah tokoh yang tak tergantikan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Perannya dalam memajukan pendidikan dan memperjuangkan kemerdekaan sangatlah besar. Semangat dan teladan yang ditinggalkannya masih memberi inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya dalam membangun bangsa.

Tinggalkan komentar