Memahami Perbandingan Pecahan dalam Soal Matematika Kontekstual Tahun 2025 – Tes Kemampuan Akademik (TKA) sering kali menampilkan wajah yang menipu. Soalnya tidak selalu rumit, tidak selalu penuh rumus, bahkan sering dibungkus dalam cerita sederhana yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun justru di sanalah banyak peserta terpeleset.
Soal Matematika TKA Tahun 2025 nomor 2 yang akan kita bahas dalam artikel ini adalah contoh yang sangat representatif. Ceritanya sederhana: berbelanja di toko. Angkanya pun tidak ekstrem. Tetapi faktanya, soal semacam ini sering menjadi penyumbang kesalahan terbesar bagi peserta TKA.
Mengapa bisa begitu?
Dari hasil analisis kami terhadap berbagai pola kesalahan peserta, masalah utamanya bukan pada ketidakmampuan menghitung, melainkan pada:
-
Kurangnya ketelitian membaca pecahan
-
Kebiasaan membandingkan angka secara kasat mata
-
Anggapan bahwa soal cerita pasti mudah
Artikel ini kami susun untuk mengajak kamu melihat soal TKA dengan sudut pandang yang lebih jernih. Kami tidak ingin kamu sekadar tahu jawabannya, tetapi memahami cara berpikir yang benar, sehingga pola ini bisa kamu terapkan pada soal-soal lain.
Kami menulis dengan sudut pandang “kami” sebagai rekan belajar, bukan penguji. Mari kita bedah soal ini pelan-pelan, setahap demi setahap.
Mengenal Karakter Soal TKA Matematika Tahun 2025
TKA Tidak Menguji Hafalan, tetapi Ketepatan Konsep
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang TKA adalah anggapan bahwa ia menguji seberapa banyak rumus yang kamu hafal. Padahal, TKA justru dirancang untuk menguji:
-
Apakah kamu memahami konsep dasar
-
Apakah kamu mampu membaca informasi dengan teliti
-
Apakah kamu bisa bernalar secara logis
Soal perbandingan pecahan seperti ini sengaja digunakan karena:
-
Materinya dianggap “mudah” oleh banyak peserta
-
Namun tetap membutuhkan pemahaman konsep yang benar
TKA menggunakan materi dasar sebagai alat seleksi karena fondasi yang rapuh akan terlihat jelas pada soal sederhana.
Identitas Soal TKA Matematika Tahun 2025
Sebelum masuk ke pembahasan teknis, mari kita pahami identitas soal secara utuh.
Spesifikasi Soal
Elemen: Bilangan
Sub-elemen: Bilangan Rasional
Kompetensi: Perbandingan dan pengurutan bilangan pecahan
Level Kognitif: Pengetahuan dan Pemahaman
Konteks: Masalah sehari-hari
Tipe Soal: Pilihan Ganda
Nomor Soal: 2
Dari spesifikasi ini saja, kita sudah bisa membaca karakter soal:
-
Tidak membutuhkan analisis tingkat tinggi
-
Tidak membutuhkan perhitungan kompleks
-
Tetapi membutuhkan ketelitian dan pemahaman konsep dasar
Analisis Indikator Soal: Apa yang Sebenarnya Diuji?
Indikator soal berbunyi:
Disajikan sebuah teks cerita, siswa dapat mengurutkan pecahan dari yang terkecil dalam konteks permasalahan kehidupan sehari-hari dengan benar.
Kalimat ini mengandung tiga kata kunci penting:
-
Teks cerita → peserta harus mampu membaca narasi dengan cermat
-
Mengurutkan pecahan → peserta harus bisa membandingkan nilai pecahan
-
Dari yang terkecil → urutan harus tepat, bukan asal
Artinya, kesalahan sekecil apa pun dalam membaca atau membandingkan pecahan akan langsung berpengaruh pada jawaban akhir.
Membaca Pokok Soal dengan Teliti
Mari kita lihat kembali pokok soal yang diberikan:
Bu Rini berbelanja di Toko Makmur.
Bu Rini membeli gula pasir 3/5 kg.
Kemudian dia membeli beras 5/2 kg dan kacang tanah 3/4 kg.Urutkan belanja Bu Rini dari berat yang terkecil!
Di tahap ini, kami selalu menyarankan satu hal penting:
Jangan lihat pilihan jawaban dulu.
Banyak peserta langsung melompat ke opsi jawaban dan mencoba “mencocokkan” secara cepat. Ini kebiasaan yang berbahaya dalam TKA.
Mengidentifikasi Data Penting dalam Soal
Dari teks soal, kita mendapatkan tiga data utama:
-
Gula pasir = 3/5 kg
-
Beras = 5/2 kg
-
Kacang tanah = 3/4 kg
Tugas kita hanya satu: mengurutkan dari berat yang terkecil.
Namun, untuk melakukan itu dengan benar, kita tidak boleh membandingkan pecahan secara kasat mata.
Mengapa Pecahan Tidak Bisa Dibandingkan Secara Langsung?
Banyak peserta tergoda untuk berpikir seperti ini:
-
“3/5 itu kecil karena pembilangnya kecil”
-
“5/2 itu kecil karena dibagi dua”
-
“3/4 kelihatannya sedang”
Cara berpikir ini sangat berisiko. Dalam matematika, nilai pecahan tidak ditentukan oleh besar kecilnya pembilang atau penyebut secara terpisah, melainkan oleh perbandingannya.
Karena itulah, kita membutuhkan strategi yang aman dan konsisten.
Strategi Utama: Menyamakan Penyebut Pecahan
Untuk level TKA dengan kognitif pengetahuan dan pemahaman, cara paling stabil untuk membandingkan pecahan adalah menyamakan penyebut.
Strategi ini:
-
Mengurangi risiko kesalahan
-
Mudah diterapkan
-
Cocok untuk soal pilihan ganda
Menentukan Penyebut yang Sama
Pecahan yang kita miliki:
-
3/5
-
5/2
-
3/4
Penyebutnya adalah 5, 2, dan 4.
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dari 5, 2, dan 4 adalah 20.
Mengubah Pecahan ke Penyebut 20
Sekarang kita ubah satu per satu.
Gula Pasir (3/5)
3/5 = (3 × 4) / (5 × 4) = 12/20
Beras (5/2)
5/2 = (5 × 10) / (2 × 10) = 50/20
Kacang Tanah (3/4)
3/4 = (3 × 5) / (4 × 5) = 15/20
Membandingkan Nilai Pecahan Setelah Disamakan
Setelah semua pecahan memiliki penyebut yang sama, proses perbandingan menjadi jauh lebih mudah.
-
Gula pasir = 12/20
-
Kacang tanah = 15/20
-
Beras = 50/20
Karena penyebutnya sama, kita cukup melihat pembilangnya.
Urutan dari yang terkecil adalah:
-
12/20 → gula pasir
-
15/20 → kacang tanah
-
50/20 → beras
Menentukan Jawaban yang Benar
Maka, urutan belanja Bu Rini dari berat yang terkecil adalah:
Gula pasir – kacang tanah – beras
Ini sesuai dengan kunci jawaban resmi.
Mengapa Opsi Lain Salah?
Soal TKA selalu menyertakan opsi pengecoh. Mari kita pahami mengapa pilihan lain tidak tepat.
-
Gula pasir – beras – kacang tanah
Salah karena beras justru paling berat. -
Kacang tanah – beras – gula pasir
Salah karena gula pasir adalah yang paling ringan. -
Kacang tanah – gula pasir – beras
Salah karena 3/5 lebih kecil daripada 3/4.
Dengan memahami alasan salahnya, kamu tidak hanya tahu jawaban benar, tetapi juga belajar cara menghindari jebakan.
Kesalahan Umum Peserta pada Soal Sejenis
Berdasarkan pengamatan kami, kesalahan yang sering terjadi antara lain:
-
Tidak menyamakan penyebut
-
Membandingkan pecahan secara visual
-
Salah membaca pecahan
-
Terburu-buru karena merasa soal mudah
Soal TKA sering menguji kedisiplinan berpikir, bukan kecepatan.